Hampir tidak pernah terdengar seseorang di akhir hidupnya berkata,
“Andai saja saya bekerja lebih lama.”
Kalimat yang lebih sering muncul justru sebaliknya. Penyesalan jarang terkait kurangnya produktivitas, tetapi terkait hubungan yang ditunda. Hidup tidak menagih laporan kinerja. Hidup menagih kehadiran yang tidak sempat diberikan.
Banyak orang menjalani hari seperti terus menimba air dari sumur yang sama. Fokus pada target, tenggat, dan peran profesional. Sementara itu, ruang lain perlahan kosong: percakapan di rumah, kebersamaan dengan anak, perhatian pada pasangan, atau sekadar duduk tanpa agenda bersama orang tua. Karier bisa jatuh lalu dibangun ulang. Waktu tidak bekerja seperti itu.
Bayangkan jam pasir. Butiran pasir jatuh perlahan, nyaris tidak terasa. Tidak ada alarm, tidak ada tanda bahaya. Namun begitu pasir melewati leher sempitnya, tidak ada mekanisme untuk memutarnya kembali. Hari-hari bekerja dengan cara yang sama. Anak bertumbuh tanpa menunggu kesiapan kita. Orang tua menua tanpa meminta izin. Kesempatan berbicara hadir, lalu berlalu.
Kisah tentang ayah yang marah karena sepeda anaknya berantakan bukan cerita besar. Justru karena kecil, kisah itu relevan. Kekacauan diperlakukan sebagai masalah, bukan sebagai tanda kehidupan. Sampai seseorang yang lebih tua berkata sederhana,
“Kalau saya bisa mengulang masa ketika anak saya kecil, saya akan lebih sering menemaninya, bukan memarahinya.”
Kalimat itu bukan nasihat. Itu peringatan dari masa depan.
Sering kali kita merasa sedang mendidik anak, padahal sebenarnya waktu sedang mendidik kita. Ia menguji ke mana perhatian diarahkan. Ia menunjukkan apa yang dianggap penting lewat pilihan sehari-hari, bukan lewat niat baik.
Hidup memang perlu diatur. Tetapi hidup juga diam-diam mengatur kita. Ia menilai bukan dari seberapa sibuk kita, melainkan dari siapa yang kehilangan kita ketika kita terlalu sibuk.
Cinta tidak menuntut hal rumit. Tidak menuntut pencapaian besar.
Cinta hanya menuntut satu hal yang sering terasa mahal: hadir.