Dari Instruksi ke Pengalaman Nyata
Belajar bersepeda selalu memperlihatkan satu pola yang konsisten.
Instruksi bisa dijelaskan dengan rinci. Posisi tubuh, cara mengayuh, hingga arah pandangan dapat disusun menjadi panduan yang sistematis. Namun kemampuan menjaga keseimbangan tidak pernah muncul dari penjelasan tersebut.
Kemampuan itu terbentuk melalui proses mencoba, kehilangan keseimbangan, memperbaiki, lalu mengulang.
Di dalam proses itu, ada pengetahuan yang tidak pernah sepenuhnya bisa dijelaskan.
Gagasan ini dirumuskan oleh Michael Polanyi, seorang filsuf dan ilmuwan kimia abad ke-20, melalui pernyataan:
“We can know more than we can tell.”
Kalimat ini menunjukkan satu hal mendasar.
Pengetahuan manusia tidak sepenuhnya bekerja dalam bahasa.
Ketika Informasi Tidak Cukup untuk Memahami
Perkembangan teknologi mendorong cara berpikir yang menempatkan data sebagai pusat pengetahuan.
Segala sesuatu dikumpulkan, disusun, dan diubah menjadi instruksi. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pemahaman dapat direpresentasikan sepenuhnya dalam bentuk informasi.
Namun saat instruksi dijalankan, muncul satu kebutuhan yang tidak terlihat.
Instruksi hanya bermakna ketika ada kemampuan untuk memahami konteksnya.
Tanpa konteks, simbol tidak memiliki arti.
Di sini terlihat bahwa pengetahuan eksplisit tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bertumpu pada tacit knowledge, yaitu kemampuan memahami yang tidak tertulis.
Gagasan ini dikembangkan lebih lanjut oleh Harry Collins, seorang sosiolog ilmu pengetahuan yang meneliti batas pemahaman manusia dan mesin. Collins menunjukkan bahwa sebagian pengetahuan hanya dapat dipahami melalui keterlibatan dalam praktik sosial.
Struktur Tacit Knowledge dalam Kehidupan
Collins membagi tacit knowledge ke dalam tiga lapisan yang saling terhubung:
Relational Tacit Knowledge
Pengetahuan tidak disampaikan karena faktor hubungan. Informasi dapat dijelaskan, namun tidak dibagikan karena konteks sosial.Somatic Tacit Knowledge
Pengetahuan melekat pada tubuh. Keseimbangan, koordinasi, dan refleks terbentuk melalui pengalaman langsung, bukan instruksi.Collective Tacit Knowledge
Pengetahuan berkembang dalam kehidupan sosial. Bahasa, norma, dan makna hanya dapat dipahami melalui partisipasi dalam komunitas.
Lapisan terakhir menunjukkan bahwa pemahaman tidak hanya berada dalam individu, tetapi dalam hubungan antar manusia.
Ilusi Pemahaman dalam Sistem Modern
Perkembangan teknologi menghadirkan sistem yang mampu menghasilkan respons kompleks.
Kalimat tersusun rapi. Jawaban terasa relevan.
Namun proses yang terjadi berbeda dengan manusia.
Sistem bekerja dengan pola.
Manusia membangun makna.
Ketika sebuah respons terasa tepat, makna tersebut muncul dari kemampuan manusia dalam menafsirkannya.
Artinya, pemahaman tidak berada pada data, tetapi pada interpretasi.
Dua Jenis Tindakan dan Batasnya
Perbedaan ini menjadi lebih jelas melalui dua jenis tindakan:
Mimeomorphic Action
Tindakan dengan pola stabil dan dapat diulang. Sistem dapat menirunya karena tidak membutuhkan konteks.Polymorphic Action
Tindakan yang berubah sesuai situasi. Cara berbicara, merespons, dan bertindak bergantung pada konteks sosial.
Jenis kedua membutuhkan pengalaman hidup. Tanpa pengalaman tersebut, tindakan kehilangan makna meskipun bentuknya terlihat benar.
Ketika Upaya Menjadi Semakin Presisi, Batas Semakin Terlihat
Upaya untuk mengubah seluruh pengetahuan menjadi sistem terstruktur justru memperlihatkan sesuatu yang tidak terduga.
Semakin banyak yang diformalisasi, semakin jelas bahwa sebagian pengetahuan tidak dapat direpresentasikan dalam bentuk kode.
Pengetahuan tacit menjadi terlihat justru ketika ia tidak bisa digantikan.
Tacit Knowledge sebagai Proses yang Terbentuk
Pengetahuan ini tidak dapat dipindahkan secara langsung seperti data.
Ia terbentuk melalui proses:
Pengamatan terhadap tindakan nyata
Interaksi yang membuka cara berpikir
Pengulangan dalam praktik
Internalisasi hingga menjadi intuisi
Proses ini membutuhkan waktu dan keterlibatan.
Posisi Manusia dalam Dunia yang Berubah
Perkembangan teknologi akan terus meningkatkan kemampuan dalam mengolah informasi.
Namun makna tidak dihasilkan oleh data.
Makna terbentuk melalui pengalaman dan interaksi.
Di sini posisi manusia menjadi lebih tegas.
Manusia adalah pembentuk makna.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal dapat dipelajari dengan cepat.
Informasi tersedia dalam jumlah besar. Instruksi dapat diakses kapan saja.
Namun pemahaman yang mendalam tidak mengikuti kecepatan tersebut.
Ada pengetahuan yang hanya muncul ketika seseorang terlibat langsung, mengalami kesalahan, dan membangun intuisi secara bertahap.
Pengetahuan ini tidak terlihat, tidak terdokumentasi, dan tidak dapat dipindahkan secara instan.
Namun justru melalui proses itu, terbentuk kemampuan untuk memahami dunia secara utuh—bukan hanya mengetahui, tetapi benar-benar mengerti.