Kematian Kepakaran di Era Semua Orang Merasa Tahu
Ada momen ketika seseorang berdebat dengan dokter hanya bermodal satu artikel internet. Ada pula saat rancangan bangunan dikritik oleh orang yang tidak pernah belajar teknik sipil, seolah pengalaman puluhan tahun seorang insinyur setara dengan opini yang terbentuk dari beberapa menit berselancar di media sosial. Situasi seperti ini bukan sekadar perbedaan pendapat. Situasi ini mencerminkan sebuah fenomena yang lebih luas, yang dikenal sebagai The Death of Expertise.
Fenomena ini bukan tentang merendahkan keinginan belajar. Fenomena ini berbicara tentang menurunnya penghargaan terhadap pengetahuan yang lahir dari proses panjang. Proses yang mencakup membaca secara mendalam, mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, dan membangun pemahaman secara bertahap. Di tengah banjir informasi, muncul ilusi bahwa semua pengetahuan memiliki bobot yang sama, terlepas dari bagaimana pengetahuan itu diperoleh.
Gagasan ini dijelaskan secara tajam oleh Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise. Nichols menunjukkan bahwa akses informasi yang luas tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Tanpa proses belajar yang disiplin, informasi justru mudah berubah menjadi keyakinan yang keliru.
Efek Dunning–Kruger dan Ilusi Pemahaman
Di balik perilaku merasa “cukup tahu”, terdapat bias psikologis yang dikenal sebagai Dunning–Kruger effect. Bias ini bekerja dengan pola yang relatif konsisten.
Pada tahap awal belajar, pemahaman masih dangkal.
Rasa percaya diri justru melonjak tinggi.
Individu merasa mampu menilai, mengkritik, bahkan menyaingi ahli.
Ketika pengetahuan bertambah, kesadaran akan kompleksitas mulai muncul.
Semakin paham, semakin jelas luasnya hal yang belum diketahui.
Contoh klasiknya adalah pemain catur pemula. Setelah memahami cara menggerakkan bidak, pemain ini sering merasa siap menantang siapa pun. Namun setelah mempelajari strategi lebih dalam, pemain tersebut mulai menyadari betapa luas dan rumit dunia catur sebenarnya.
Media Digital dan Percepatan Kematian Kepakaran
Di era digital, bias ini diperkuat oleh ekosistem media sosial.
Beberapa faktor yang mempercepat fenomena ini antara lain:
algoritma yang mengutamakan keterlibatan, bukan akurasi,
penyebaran opini cepat tanpa proses verifikasi,
penghargaan terhadap suara paling keras, bukan yang paling kompeten,
pemahaman ilmu sebagai produk instan, bukan perjalanan panjang.
Kritik terhadap sistem pendidikan modern turut berperan. Ketika pendidikan diperlakukan sebagai transaksi untuk memperoleh sertifikat, kedalaman sering tertinggal. Banyak orang menyelesaikan pendidikan formal tanpa membangun kerendahan hati intelektual yang seharusnya menyertai pengetahuan.
Dampak Nyata dalam Kehidupan Publik
Kematian kepakaran bukan isu abstrak. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan bersama.
Beberapa contohnya:
pada masa pandemi, nasihat ahli kesehatan ditolak oleh orang yang tidak pernah mempelajari biologi dasar,
dalam isu perubahan iklim, riset bertahun-tahun disamakan dengan opini singkat yang terdengar meyakinkan,
dalam kebijakan publik, keputusan kompleks disederhanakan menjadi slogan yang mudah dibagikan.
Dalam kondisi ini, keyakinan yang kuat sering mengalahkan kompetensi yang tenang.
Memulihkan Sikap terhadap Pengetahuan
Menghargai kepakaran bukan berarti menerima semua pendapat ahli tanpa kritik. Yang dibutuhkan adalah pembedaan yang jelas antara skeptisisme sehat dan penolakan tanpa dasar.
Sikap yang lebih dewasa terhadap pengetahuan mencakup:
memahami bahwa keahlian dibangun melalui waktu dan kegagalan,
menyadari batas pengetahuan diri sendiri,
mengajukan pertanyaan dengan niat memahami, bukan mengalahkan,
menghormati proses belajar yang panjang dan tidak instan.
Insight
Kematian kepakaran bukan disebabkan oleh terlalu banyak orang belajar, melainkan oleh terlalu sedikit orang yang mau belajar secara mendalam. Ketika pengetahuan dianggap setara dengan opini, masyarakat kehilangan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang kompleks.
Memulihkan penghargaan terhadap kepakaran berarti memulihkan kerendahan hati intelektual. Bukan untuk menutup ruang dialog, tetapi untuk memastikan bahwa dialog dibangun di atas pemahaman yang bertanggung jawab. Di dunia yang semakin rumit, kebijaksanaan tidak lahir dari kecepatan beropini, tetapi dari kesediaan untuk memahami lebih dalam sebelum berbicara.