Mengapa Bab I Sering Panjang tetapi Masalahnya Tidak Terlihat
Di dunia akademik, ada satu persoalan yang terus berulang. Banyak mahasiswa kesulitan merumuskan masalah penelitian pada Bab I. Naskah terlihat panjang, referensi berlimpah, teori tersusun rapi, tetapi pembaca tetap kesulitan menemukan di mana letak persoalan yang sebenarnya ingin diteliti.
Situasi ini jarang disebabkan oleh kurangnya bacaan atau ketidakpahaman metode. Penyebab yang lebih sering justru sebaliknya. Mahasiswa menumpuk teori tanpa terlebih dahulu menguji apa yang sedang terjadi di lapangan. Akibatnya, tulisan bergerak ke banyak arah, tetapi tidak pernah berhenti pada satu pertanyaan inti yang jelas.
Padahal, inti masalah akademik dapat ditelusuri dari satu hubungan dasar yang sederhana, yaitu hubungan antara Das Sollen dan Das Sein.
Dua Titik yang Menentukan Masalah Penelitian
Masalah penelitian selalu lahir dari pertemuan dua titik berikut:
Das Sollen
Menggambarkan kondisi ideal. Pada titik ini, teori, regulasi, standar, dan prinsip normatif menjelaskan apa yang seharusnya terjadi.
Contohnya dalam pelayanan publik, layanan seharusnya:cepat,
adil,
transparan,
mudah diakses.
Das Sein
Menggambarkan kondisi faktual. Pada titik ini, peneliti melihat apa yang benar-benar terjadi di lapangan, seperti:proses yang lambat,
prosedur berbelit,
informasi yang sulit diperoleh,
pengalaman pengguna yang membingungkan.
Kedua titik ini tidak dapat berdiri sendiri. Keduanya harus diletakkan berdampingan agar persoalan akademik terlihat secara jelas.
Masalah Akademik Berada di Antara Keduanya
Masalah penelitian tidak terletak pada teori semata dan tidak pula pada fakta semata. Masalah muncul dari jarak antara kondisi ideal dan kondisi faktual.
Kesalahan yang sering terjadi dalam Bab I antara lain:
terlalu lama menguraikan teori tanpa menunjukkan penyimpangan di lapangan,
menyajikan data lapangan tanpa mengaitkannya dengan standar normatif,
menghindari penegasan bahwa terdapat ketidaksesuaian yang layak dipertanyakan.
Dalam kondisi tersebut, Bab I menjadi panjang tetapi kehilangan fokus, karena pembaca tidak pernah diajak melihat jarak yang menjadi dasar penelitian.
Rumusan Masalah Tidak Membutuhkan Kerumitan
Merumuskan masalah penelitian tidak membutuhkan bahasa rumit atau teori berlapis-lapis. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menunjukkan ketidaksesuaian secara eksplisit.
Beberapa contoh jarak yang langsung membentuk masalah penelitian:
teori menyatakan pelayanan harus cepat, tetapi praktik di Kantor X justru lambat,
regulasi menuntut transparansi, tetapi dokumen sulit diakses publik,
prinsip keadilan dijunjung tinggi, tetapi praktik menunjukkan perlakuan yang tidak seimbang.
Begitu jarak ini ditunjukkan dengan jelas, arah penelitian muncul secara alami. Peneliti dapat:
menelusuri penyebab ketidaksesuaian,
menganalisis mekanisme yang bekerja,
atau merumuskan alternatif perbaikan.
Tanpa penegasan jarak tersebut, penelitian kehilangan dasar argumentatifnya.
Insight
Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kondisi yang sepenuhnya ideal. Ilmu pengetahuan bergerak dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Di ruang inilah kritik bekerja dan penelitian memperoleh alasan keberadaannya.
Memahami hubungan antara Das Sollen dan Das Sein membantu mahasiswa melihat bahwa Bab I bukan ruang untuk memamerkan teori, melainkan ruang untuk menunjukkan persoalan. Ketika persoalan ditampilkan secara jujur dan terfokus, Bab I tidak lagi terasa seperti labirin panjang, tetapi menjadi pintu masuk yang langsung mengarah ke inti penelitian.